Inspiring Talk With Alumni (INSTALK) 2019

Kehidupan pascakampus adalah tahap yang akan dilalui oleh setiap mahasiswa untuk mengabdikan dirinya di masyarakat yang lebih luas. Setiap orang tentu ingin mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keilmuan yang dipilih, sehingga alumni memiliki peran penting untuk membantu dalam mempersiapkan kehidupan pascakampus, mulai dari berbagi cerita tentang pengalaman kerja sesuai keilmuan, memberi motivasi, serta problem solving dalam membuat suatu keputusan. Hal tersebut patut diperhatikan sebagai upaya mendukung persiapan individu memasuki tahap pascakampus. Oleh karena itu, diadakannya kegiatan yang berjudul “INSTALK” Inspiring Talk with Alumni yang akan menghadiri alumni IKK dari berbagai bidang keilmuan dan mahasiswa berprestasi dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Kegiatan INSTALK merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Biro Business and Partnership HIMAIKO-IPB dengan rangkaian yang terdiri atas talkshow mahasiswa berprestasi IKK 53 dan talkshow alumni. Tema kegiatan ini adalah ”Menjadi Individu yang Modern di Era Digital”. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Ruang Auditorium GMSK, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor pada tanggal 14 September 2019. Kegiatan Inspiring Talk with Alumni (INSTALK) dilaksanakan dengan tujuan:

1.Menambah pengetahuan mengenai kehidupan pascakampus berdasarkan pengalaman alumni.

2.Meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi dunia pascakampus.

3.Memotivasi mahasiswa untuk menekuni bidang keilmuan IKK.

Pemateri dalam kegiatan Talkshow mahasiswa berprestasi IKK adalah Muhammad Defrianto

Sementara pemateri Talkshow alumni IKK terdiri atas tiga pembicara, yaitu:

1.Iffahsari Musyrifah, S. Si (Influencer Marketing Specialist Bukalapak – IKK 48)

2.Vivi Priliyanti, S. Si (Child and Education Consultant – IKK 46)

3.Meilia Rachmawati, S. Si (Analisis Pemberdayaan Perempuan dan Anak / KPPA – IKK 48).

Peserta dari kegiatan ini berjumlah 117 Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen angkatan 52-56 dan perwakilan dosen.

 

 719 total views,  6 views today

mengatasi Kemiskinan

 19 total views

Siap Nikah

 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun mengambil inisiatif untuk mengembangkan Indeks Kesiapan Berkeluarga. Melalui Direktorat Bina Ketahanan Remaja, BKKBN menggandeng Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen serta Direktorat Sistem Informasi dan Transformasi Digital Institut Pertanian Bogor (IPB).

Indeks ini mengukur kesiapan seseorang membangun keluarga dalam 10 dimensi dan 50 indikator. Indeks ini kemudian dikembangkan dalam bentuk aplikasi yang bisa diakses publik melalui website www.siap-nikah.id. Sejak diluncurkan Juli 2019, aplikasi ini mendapat respons positif generasi muda yang ingin mengukur kesiapannya sebelum menuju gerbang pernikahan.

April 2020, inisiatif kembali digulirkan oleh BKKBN untuk mengembangkan www.siap-nikah.id. Dengan menggandeng Rumah Perubahan, website yang sebelumnya berisi kuesioner kesiapan menikah, dikembangkan dalam konsep one stop solution.

Mei 2020, lahirlah konsep baru melalui hadirnya www.siapnikah.org. Website ini menghadirkan berbagai content yang relevan dengan kebutuhan generasi muda dalam mempersiapkan pernikahan, termasuk mempersiapkan diri dalam pengasuhan anak.

Harapan kami, website ini bisa menjadi rujukan bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri sebelum masuk gerbang pernikahan, maupun bagi keluarga muda yang ingin belajar ilmu parenting. Misi utamanya, membangun keluarga berkualitas.

Semoga bermanfaat.

 27,158 total views

Kelas Akademi Keluarga Hebat Indonesia 2019 Bantu Warga Bogor

Image
Stunting merupakan permasalahan gagal tumbuh dan kembang pada balita akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang lama. Biasanya terjadi sejak dalam masa kandungan, masa awal bayi baru lahir dan baru akan nampak ketika anak usia dua tahun. Pencegahan stunting saat ini merupakan prioritas dari pemerintah. Berdasarkan data dari WHO tahun 2018, satu dari tiga anak di Indonesia menderita stunting. Oleh karena itu, penanganan stunting yang paling tepat adalah pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak hamil sampai usia dua tahun.
Adanya permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi keluarga tersebut menunjukkan bahwa fungsi keluarga dalam menjaga, menumbuhkan dan mengembangkan kualitas anggota keluarganya belum dapat dilaksanakan secara optimal.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi permasalahan yang dihadapi keluarga dan menegakkan kembali fungsi keluarga adalah melakukan pemberdayaan keluarga melalui pendidikan keluarga. Pemberdayaan keluarga pada dasarnya adalah membangun kemampuan keluarga untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara sinambung.
Pemberdayaan keluarga melalui proses pendidikan keluarga merupakan salah satu intervensi gizi sensitif yang dilakukan untuk penanganan stunting dalam jangan panjang. Bersama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bogor dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University melakukan program Akademi Keluarga Hebat Indonesia (AKHI) Kelas 1000 HPK di 10 Desa Prioritas Stunting Kabupaten Bogor. Dalam program pendidikan keluarga ini, tidak hanya materi pelaksanaan fungsi keluarga tetapi juga perawatan kehamilan dan pengasuhan anak untuk penanganan masalah tumbuh kembang anak, termasuk stunting.
Pada pembukaan Kelas AKHI 2019 di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur, (2/9), Kepala Desa Pabuaran, Atika Pauzi menyatakan dengan adanya program ini harapannya dapat mengurangi kejadian stunting di Desa Pabuaran dan ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini dapat menerapkan ilmu yang didapat di rumah masing-masing serta dapat menyebarluaskan pengetahuan yang di dapat selama kegiatan AKHI 2019 kepada anggota keluarga maupun tetangga di lingkungan rumah.
Edukasi keluarga menjadi hal yang penting diberikan kepada keluarga sebagai modal utama dalam pembangunan keluarga sejahtera dan pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Keunikan pada program ini adalah peserta yang dilibatkan tidak hanya istri saja namun para suami juga dapat mengikutinya.
Hal ini dikarenakan dalam melakukan pengasuhan kepada anak tidak hanya menjadi tanggung jawab istri tetapi juga diperlukan peran aktif serta dukungan dari suami dalam praktik pengasuhan untuk mengurangi serta mencegah terjadinya stunting pada anak.
“Ke depannya lokasi-lokasi yang menjadi lokus stunting dapat berkurang serta Indonesia memiliki Sumberdaya Manusia (SDM) berkualitas dan ibu-ibu Indonesia memiliki anak-anak yang sehat, cerdas dan berkarakter sehingga penting untuk mengikuti kegiatan AKHI 2019 selama 16 kali pertemuan. Di program ini ibu-ibu akan mendapatkan tambahan ilmu khususnya dalam pengasuhan,” ujar Dra. Maria Evi, Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak – BKKBN RI.
Sementara itu, Dr Tin Herawati selaku Ketua Departemen IKK menyatakan bahwa dua tahun pertama kehidupan sangat menentukan kualitas SDM di masa yang akan datang sehingga adanya pendidikan keluarga di setiap wilayah sangat diperlukan. (fika/Zul)
Keyword: Stunting, Akademik Keluarga Hebat Indonesia, Kelas AKHI 2019, Departemen IKK, BKKBN RI, DP3AP2KB Kabupaten Bogor, IPB University

 25,368 total views

Informasi Jadwal UAS Susulan Telah ditambahkan info pelaksanaan utk UAS Susulan MSDK (online)

Download Here : (UPDATE) PENGUMUMAN UAS GANJIL 2019-2020 UJIAN SUSULAN

 2,578 total views,  3 views today

Pemerintah pusat menyuntikan anggaran cukup besar untuk penanganan Stunting di Garut, Jawa Barat.

Bupati Garut Rudy Gunawan saat memberikan keterangannya kepada wartawan di Garut

Pemerintah pusat menyuntikan anggaran cukup besar untuk penanganan Stunting di Garut, Jawa Barat.

“Ada anggaran cukup besar dari pemerintah pusat hampir Rp44 miliar untuk program Indonesia Sehat,” ujar Bupati Garut Rudy Gunawan, kemarin.

Menurutnya, persoalan stunting atau tubuh kerdil sejak lama menjadi perhatian serius pemerintah Garut. Kondisi itu berbanding lurus dengan kasus stunting secara nasional.

“Di Garut sih normal, mau apapun kita anggap darurat saja, kenapa darurat ? karena nasional pun menyatakan darurat, masa nasional darurat di Garut tidak darurat,” kata dia.

 

Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan mahasiswa Universitas Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan di kabupaten Garut

Rudy menambahkan, selain faktor generika dan buruknya asupan gizi masyarakat saat masuk masa kandungan, buruknya data warga miskin menambah runyam pemerintah. “Data yang diberikan tidak begitu lengkap,” kata dia.

Menurutnya, kehadiran Basis Data Terpadu (BDT) yang dikeluarkan pemerintah, belum mampu memberikan jawaban, dalam mengantisipasi warga miskin.

“Misalnya yang menerima PKH itu kan miskin, begitu pun orang yang menerima BNPT juga sama, tapi coba lihat (banyak yang mampu menerima),” kata dia.

Ia kemudian mencontohkan pemberian jatah beras 10 kilogram yang akhirnya harus dibagi akibat banyaknya warga miskin yang tidak terdata. “Telur juga 8 butir harus dibagi dua itu untuk seminggu loh,” kata dia.

Akibat buruknya pendataan data warga, program penanggulan stunting belum menunjukan progress yang signifikan bagi masyarakat.

“Padahal anggarannya besar, untuk makan saja puluhan miliar yang kita keluarkan,” ujarnya.

 4,975 total views